Selasa, 08 Mei 2012

guru yang ideal dalam kelas maupun luar kelas



BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang  masalah
Saat ini, guru di Indonesia yang memiliki kriteria ideal di atas masih sangat sedikit. Kebanyakan guru-guru bangsa ini masih mengandalkan gelar kesarjanaan tanpa mengevaluasi kemampuan dan tanggung jawab besar yang sebenarnya ia emban. Guru mempunyai peranan penting dalam mendidik para siswa. Peranan ini meliputi berbagai jenis pola tingkah laku, baik dalam kegiatannya di dalam sekolah maupun diluar sekolah.
Guru diharapkan dapat membekali peserta didiknya sebagai penerus bangsa ini. Guru adalah pelaku perubahan. Gagasan ini menjadikan guru harus peka dan tanggap terhadap berbagai perubahan, pembaharuan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sejalan dengan tuntutan masyarakat dan perkembangan zaman. Bahkan tidak sesederhana itu saja, ciri guru ideal di era globalisasi seperti saat ini perlu tampil sebagai pendidik, pengajar, pelatih, inovator dan dinamisator secara sekaligus dan integral dalam mencerdaskan anak didiknya. Dalam makalah ini akan dibahas beberapa criteria guru yang bias disebut ideal dalam proses pembelajaran maupun diluar pembelajaran.
Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari guru yang ideal?
2.      Apa saja yang perlu dimiliki sebagai guru yang ideal?
Tujuan
1.      Memahami pengertian guru yang ideal
2.      Manegetahui apa saja yang dperlukan guru yang ideal


BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian guru yang ideal
Guru yang ideal adalah guru yang memiliki semangat belajar bukan semangat mengajar. Guru tidak menempatkan diri sebagai narasumber yang hebat dan harus memindahkan ilmu ke otak siswa, tapi sebagai pendamping dan bagian dari siswa untuk belajar bersama. [1] Guru ideal adalah dambaan peserta didik. Guru ideal adalah sosok guru yang mampu untuk menjadi panutan dan selalu memberikan contoh atau keteladanan. Ilmunya seperti mata air yang tak pernah habis. Semakin diambil semakin jernih airnya. Mengalir bening dan menghilangkan rasa dahaga bagi siapa saja yang meminumnya. Guru ideal adalah guru yang mengusai ilmunya dengan baik. Mampu menjelaskan dengan baik apa yang diajarkannya. Disukai oleh peserta didiknya karena cara mengajarnya yang enak didengar dan mudah dipahami.[2]
Siswa mengakui bahwa pengajar yang baik tidak terlalu terkait dengan pengetahuan dan ketrampilan dibanding dengan sikap siswa terhadap siswa, materi yang diajarkan, dan pekerjaan itu sendiri. Banyak guru yang dianggap ideal ternyata hanya memiliki beberapa sifat dominan. Karakteristik yang disebutkan sebagai alat yang memungkinkan guru-guru menciptakan  dan mempertahankan konektivitas di kelas. Guru yang ideal tersebut memiiki kesadaran akan tujuan pasti, memiliki harapan akan keberhasilan bagi semua siswa, menunjukkan kemauan beradaptasi dan berubah untuk memenuhi kebutuhan siswa, mencerminkan komitmen pada pekerjaan mereka, mau belajar berbagai model pembelajaran[3]. Selain itu guru ideal harus bisa menerima kritikan dari peserta didiknya. Dari kritik itulah, guru belajar dan mendapat pengalaman baru dalam mengajar. Guru dapat mengetahui kekurangan cara mengajarnya, dan melakukan umpan balik (feedback).
B.     Guru yang ideal adalah guru yang memiliki 5 kecerdasan.
Kecerdasan yang dimiliki akan berpengaruh terhadap karakter dan perilakunya sehari-hari. Baik ketika mengajar, ataupun dalam hidup ditengah-tengah masyarakat.
1.      Kecerdasan Intelektual
Kecerdasan intelektual adalah kemampuan intelektual, analisa, logika dan rasio. Kecerdasan intelektual merupakan kecerdasan untuk menerima, menyimpan dan mengolah infomasi menjadi fakta. Orang yang kecerdasan intelektualnya baik, baginya tidak ada informasi yang sulit, semuanya dapat disimpan dan diolah, pada waktu yang tepat dan pada saat dibutuhkan diolah dan diinformasikan kembali. Proses menerima , menyimpan, dan mengolah kembali informasi, (baik informasi yang didapat lewat pendengaran, penglihatan atau penciuman) biasa disebut "berfikir. Kecerdasan intelijen mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan.[4] Guru yang mempunyai kompetensi tinggi dengan banyak membaca, menulis dan meneliti. Ia adalah figur yang senang dengan pengembangan diri terus menerus, tidak merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki.
2.      Kecerdasan Moral
Kecerdasan moral atau yang biasa dikenal dengan MQ (moral quotient) adalah kemampuan seseorang untuk membedakan mana yang benar dari mana yang salah berdasarkan keyakinan yang kuat akan etika dan menerapkannya dalam tindakan.[5]
Kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan kecerdasaan moral karena jika tidak, peserta didik hanya akan mementingkan keberhasilan daripada proses. Segala cara dianggap halal, yang penting tujuan tercapai semaksimal mungkin. Akan menimbulkan kasus plagiat  dan korupsi di kalangan orang berpendidikan. Karena itu kecerdasan moral akan mengawasi kecerdasan intelektual sehingga akan mampu berlaku jujur dalam kondisi apapun, karena kejujuran adalah kunci keberhasilan dan kesuksesan. Mempunyai moral yang baik, bisa menjadi teladan, dan memberi contoh perbuatan, tidak sekedar menyuruh.[6]
3.      Kecerdasan Emosional[7]
Kecerdasan emosional atau yang biasa dikenal dengan EQ (emotional quotient) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan oranglain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan. Kecerdasan emosional (EQ) dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ). Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang. Kecerdasan emosional harus ditumbuhkan agar guru tidak mudah marah, tersinggung, dan melecehkan orang lain. Dia harus memiliki sifat penyabar dan pemaaf.
4.      Kecerdasan  Sosial
Kecerdasan sosial juga harus dimiliki oleh guru ideal agar tidak egois, dan selalu memperdulikan orang lain yang membutuhkan pertolongannya. Dia pun harus mampu bekerjasama dengan karakter orang lain yang berbeda. Kecerdasan ini berkaitan erat dengan sosialisasi. Ini diperlukan untuk menjaga agar komunikasi dalam kelas tetap lancar. Adanya sosialisasi yang baik antara guru dan peserta didik akan mudah dalam mendapatkan feedback. Sehingga semua siswa aktif dalam proses pembelajaran.
5.      Kecerdasan Motorik
            Kecerdasan motorik adalah kemampuan pengedalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoodinir antara susunan syaraf, otak dan otot. Kecerdasan motorik diperlukan agar guru mampu melakukan mobilitas tinggi sehingga mampu bersaing dalam memperoleh hasil yang maksimal. Kecerdasan motorik harus senantiasa dilatih agar guru dapat menjadi kreatif dan berprestasi untuk mewujudkan tujuan pendidikan seperti yang diharapkan. [8]



BAB III
PENUTUP

1.      Kesimpulan
-         Guru yang ideal adalah Guru ideal adalah sosok guru yang mampu untuk menjadi panutan dan selalu memberikan contoh atau keteladanan
-         Guru ynag ideal harus memenuhi 5 kecerdasan yaitu:
Kecerdasan Intelektual
Kecerdasan Emosional
Kecerdasan Moral
Kecerdasan Sosial
Kecerdasan Motorik

2.      Saran
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, mohon adanya kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah. Terima kasih.


DAFTAR PUSTAKA


Denim,Sudarwan. Pedagogi, Andragogi, dan Teutagogi. Bandung: Alfabeta. 2010
Samba, sujono. Lebih baik tidak sekolah. Yogyakarta: LkiS.2007


[1] Samba, sujono. Lebih baik tidak sekolah. Yogyakarta: LkiS. 2007 HAL 44-45
[3] Denim,sudarwan. Pedagogi, andragogi, dan teutagogi. Bandung: Alfabeta.2010 hal:40
[5] http://id.wikipedia.org diakses pada 7 mei 2012 20.35

[7] http://id.wikipedia.org diakses pada 7 mei 2012 19.07

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar